Contact Center: +62 85782816864

Relawan Mitra, Bukan Musuh: Ada Apa dengan RSUD Provinsi Banten?

04 November 2025 jaka
Relawan Mitra, Bukan Musuh: Ada Apa dengan RSUD Provinsi Banten?

Serang, 2 November 2025

Sebuah insiden kecil namun menyentuh hati terjadi di RSUD Provinsi Banten, Sabtu pagi (1/11). Seorang relawan sosial dari Yayasan Senyum Insan Nusantara yang tengah mendampingi dua pasien tidak mampu mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari salah satu petugas rumah sakit.

Kejadian bermula sekitar pukul 07.30, ketika relawan tersebut mengantar dua pasien — satu anak ke poli mata dan satu pasien Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) ke poli jiwa. Karena keduanya tidak memiliki ponsel dan kesulitan mengurus administrasi, relawan sudah lebih dulu mendaftarkan pasien secara online melalui loket 7 Gedung Rajawali pada hari Jumat.

“Saya khawatir pasien ODGJ tidak bisa menunggu lama, jadi saya daftarkan sehari sebelumnya lewat reservasi daring,” ujarnya.

Namun, ketika tiba di lantai dua Gedung Garuda untuk mengambil nomor antrean, relawan tersebut justru disambut dengan kalimat yang menyinggung dari seorang petugas perempuan.

“Dia bilang, ‘hmm... kader masih berkeliaran’. Lalu dengan nada sinis berkata bahwa tugas kader itu di posyandu, bukan di rumah sakit,” tutur relawan tersebut menirukan.

Relawan pun mencoba menjelaskan bahwa perannya adalah membantu masyarakat miskin dan pasien rentan agar bisa mendapat akses layanan kesehatan. “Saya ini bukan cari uang. Saya kader dan juga relawan yayasan, sering diminta Dinas Sosial untuk mendampingi warga tidak mampu,” tambahnya.

Ia juga menegaskan bahwa tidak semua kader atau relawan adalah oknum. “Kalau ada yang menyalahgunakan peran, itu tanggung jawab pribadi. Tapi jangan semua disamaratakan. Sama halnya seperti profesi lain — ada yang buruk, tapi lebih banyak yang tulus membantu,” ungkapnya.

Setelah mengetahui bahwa pasien yang didampingi adalah ODGJ, barulah petugas tersebut melunak. Namun bagi relawan, ucapan merendahkan itu sudah terlanjur menorehkan luka batin.

“Saya merasa seperti dianggap pengganggu, padahal kami ini perpanjangan tangan dari pemerintah untuk menjangkau masyarakat yang kesulitan,” ujarnya lirih.

Relawan: Garda Terdepan yang Sering Tak Dihargai

Insiden ini kembali membuka perbincangan tentang posisi relawan sosial di lapangan. Dalam banyak kasus, para relawan sering menjadi jembatan antara warga miskin dan fasilitas layanan publik. Mereka bekerja tanpa imbalan, mengandalkan empati dan hati nurani.

“Kalau petugas rumah sakit tidak mau mendorong kursi roda, tidak membiayai ambulans, tidak menjemput pasien miskin — siapa yang melakukannya kalau bukan kami para relawan?” tegasnya.

Yayasan Senyum Insan Nusantara sendiri dikenal aktif dalam kegiatan pendampingan sosial dan kesehatan masyarakat di wilayah Banten. Mereka berharap pihak rumah sakit dan lembaga kesehatan pemerintah dapat melihat peran relawan sebagai mitra, bukan ancaman.

Pernyataan Resmi Yayasan Senyum Insan Nusantara

Ketua Yayasan Senyum Insan Nusantara, Jaka Pamungkas, menanggapi kejadian tersebut dengan bijak.

“Kami memahami bahwa petugas rumah sakit memiliki aturan dan tanggung jawab masing-masing. Namun, kami juga berharap ada komunikasi yang lebih baik antara petugas dan relawan di lapangan. Relawan hadir bukan untuk mengganggu, tapi untuk menolong,” ujarnya.

Jaka menambahkan bahwa sinergi antara rumah sakit, dinas sosial, dan lembaga masyarakat sangat penting dalam memperluas akses pelayanan kesehatan bagi warga miskin.

“Kami ingin menegaskan, relawan adalah mitra pemerintah. Mereka bekerja di garis depan, sering tanpa upah, demi memastikan tak ada masyarakat yang tertinggal dari pelayanan dasar,” tutupnya.