Serang, 2 November 2025 –
Sebuah insiden kecil namun menyentuh hati terjadi di RSUD Provinsi Banten,
Sabtu pagi (1/11). Seorang relawan sosial dari Yayasan Senyum Insan Nusantara
yang tengah mendampingi dua pasien tidak mampu mendapat perlakuan kurang
menyenangkan dari salah satu petugas rumah sakit.
Kejadian bermula sekitar pukul 07.30, ketika relawan
tersebut mengantar dua pasien — satu anak ke poli mata dan satu pasien Orang
Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) ke poli jiwa. Karena keduanya tidak memiliki
ponsel dan kesulitan mengurus administrasi, relawan sudah lebih dulu
mendaftarkan pasien secara online melalui loket 7 Gedung Rajawali pada
hari Jumat.
“Saya khawatir pasien ODGJ tidak bisa menunggu lama, jadi
saya daftarkan sehari sebelumnya lewat reservasi daring,” ujarnya.
Namun, ketika tiba di lantai dua Gedung Garuda untuk
mengambil nomor antrean, relawan tersebut justru disambut dengan kalimat yang
menyinggung dari seorang petugas perempuan.
“Dia bilang, ‘hmm... kader masih berkeliaran’. Lalu dengan
nada sinis berkata bahwa tugas kader itu di posyandu, bukan di rumah sakit,”
tutur relawan tersebut menirukan.
Relawan pun
mencoba menjelaskan bahwa perannya adalah membantu masyarakat miskin dan pasien
rentan agar bisa mendapat akses layanan kesehatan. “Saya ini bukan cari uang.
Saya kader dan juga relawan yayasan, sering diminta Dinas Sosial untuk
mendampingi warga tidak mampu,” tambahnya.
Ia juga
menegaskan bahwa tidak semua kader atau relawan adalah oknum. “Kalau ada yang
menyalahgunakan peran, itu tanggung jawab pribadi. Tapi jangan semua
disamaratakan. Sama halnya seperti profesi lain — ada yang buruk, tapi lebih
banyak yang tulus membantu,” ungkapnya.
Setelah
mengetahui bahwa pasien yang didampingi adalah ODGJ, barulah petugas tersebut
melunak. Namun bagi relawan, ucapan merendahkan itu sudah terlanjur menorehkan
luka batin.
“Saya merasa
seperti dianggap pengganggu, padahal kami ini perpanjangan tangan dari
pemerintah untuk menjangkau masyarakat yang kesulitan,” ujarnya lirih.
Relawan: Garda Terdepan yang Sering Tak Dihargai
Insiden ini kembali membuka perbincangan tentang posisi
relawan sosial di lapangan. Dalam banyak kasus, para relawan sering menjadi
jembatan antara warga miskin dan fasilitas layanan publik. Mereka bekerja tanpa
imbalan, mengandalkan empati dan hati nurani.
“Kalau petugas rumah sakit tidak mau mendorong kursi roda,
tidak membiayai ambulans, tidak menjemput pasien miskin — siapa yang
melakukannya kalau bukan kami para relawan?” tegasnya.
Yayasan Senyum Insan Nusantara sendiri dikenal aktif dalam
kegiatan pendampingan sosial dan kesehatan masyarakat di wilayah Banten. Mereka
berharap pihak rumah sakit dan lembaga kesehatan pemerintah dapat melihat peran
relawan sebagai mitra, bukan ancaman.
Pernyataan
Resmi Yayasan Senyum Insan Nusantara
Ketua Yayasan
Senyum Insan Nusantara, Jaka Pamungkas, menanggapi kejadian tersebut
dengan bijak.
“Kami memahami bahwa petugas rumah sakit memiliki aturan dan
tanggung jawab masing-masing. Namun, kami juga berharap ada komunikasi yang
lebih baik antara petugas dan relawan di lapangan. Relawan hadir bukan untuk
mengganggu, tapi untuk menolong,” ujarnya.
Jaka menambahkan bahwa sinergi antara rumah sakit, dinas
sosial, dan lembaga masyarakat sangat penting dalam memperluas akses pelayanan
kesehatan bagi warga miskin.
“Kami ingin
menegaskan, relawan adalah mitra pemerintah. Mereka bekerja di garis depan,
sering tanpa upah, demi memastikan tak ada masyarakat yang tertinggal dari
pelayanan dasar,” tutupnya.